Gaza – Infopalestina: Darah mengalir dari seluruh tubuhnya. Setiap kali demamnya terus meningkat dan suara kesakitan semakin meninggi. Ibunya menangis perih. Saudara perempuannya meratap keras, menghubungu stasiun radio local. Yang lain memanggil Palang Merah. Yang ketiga menyeru mobil-mobil ambulan … Dan yang kesepuluh meminta-minta organisasi HAM. Jawabannya hanya satu: Sayang sekali, kami tidak bisa sampai ke tempat kalian … maafkan kami!

Beberapa jam kemudian setelah teriakan orang-orang lemah yang tidak berbuat apa-apa, Hamid Abu Aker mengembuskan nafasnya yang terakhir. Dia berangkat dengan segala ungkapan dan ekspresi. Tidak ada yang tertinggal kecuali linangan air mata yang deras dari para mata yang sock dan terguncang akibat perang yang menggila. Perang yang telah memutuskan untuk membantai kemanusiaan, tiada yang tersisa dari segala kosakata kemanusiaan.

Penderitaan keluarga Abu Aker tidak berakhir hingga di sini. Jasad Hamid tergeletak membujur kaki di hadapan mereka selama berjam-jam. Dan berjam-jam itu berubah menjadi berhari-hari. Mayat itu mulai terurai, bau bangkai memenuhi tempat. Tak seorangpun berani membuka pintu, sekedar untuk mendapatkan udara baru. Takut dan mengerikan!

Dengan suara yang telah kehilangan rambunya, saudara perempuan Hamid menuturkan apa yang terjadi di rumah mereka yang berada di ujung utara Jalur Gaza. Dia mengatakan, “Tiga hari yang lalu gempuran dahsyat menghantam rumah-rumah sekitar kami. Kami terkena sasaran salah satu mortir yang ditembakan tank-tank Israel. Saudaraku jatuh tersungkur berdarah-darah. Kami menghubungi tim ambulan dan dengan segala cara yang lain. Namun tidak ada yang bisa merespon!”

Setelah meratap keras, dia melanjutkan penuturannya. “Dia terus berlumuran darah tanpa henti sampai akhirnya meninggal dunia. Kami sama sekali tidak berani melihat keluar melalui jendela, apalagi keluar. Itu artinya kebinasaan buat kami. Hari ini, setelah tiga hari dia meninggal dunia, sebuah mobil ambulan berhasil masuk ke daerah ini dan mengeluarkan mayatnya.”

Dengan rasa pedih dan sakit, dia melanjutkan lagi. “Semua kata-kata tidak bisa untuk mengungkapkan kebiadaban mereka (Israel). Apa yang terjadi adalah perang pemusnahan etnis. Seakan kami tidak percaya bahwa kami adalah manusia.”

Dan masih banyak rumah di utara dan timur Jalur Gaza meneriakkan suara minta tolong untuk menyelamatkan korban-korban luka mereka dan mengeluarkan mayat-mayat dari keluarga mereka yang sudah meninggal. Dan ketika mobil-mobil ambulan atau Palang Merah mulai bergerak, desingan-desingan peluru dan missil maut memburu di atas kepala-kepala mereka.

Seruan Keluarga Zaqut

Di salah satu siaran stasiun radio local, terdengan suara Ummu Ra'fat Zaqut. Wanita yang tinggal bersama keluarganya di kampung Zaitun, timur Gaza, ini meminta dengan penuh iba kepada mobil ambulan untuk mengevakuasi suaminya yang terluka dan anaknya yang berdarah-darah. Sesaat kemudian terdengar suara penyiar radio yang mengatakan: tim-tim medis tidak bisa sampai ke lokasi-lokasi yang membara.

Beberapa jam setelah Ummu Ra'fat menghubungi stasiun radio tersebut, radio yang sama menyiarkan berita yang bersifat segera: seruan dari keluarga Zaqut, dua orang gugur dari keluarga setelah mobil-mobil ambulan gagal sampai ke mereka dan menyelamatkan nyawa mereka.

Israel terus melancarkan pembantaian biadab terhadap warga sipil Palestina yang terisolasi, yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun. Pesawat-pesawat maut Israel melumatkan puluhan rumah keluarga-keluarga Palestina secara total. Membunuh anak-anak kecil dan orang dewasa dengan darah dingin.

Abu Imad Zarqah, warga Palestina ini tinggal di ujung timur Jalur Gaza. Dia menceritakan salah satu kesaksian yang mengerikan. Katanya, “Keluarga Sabt terdiri dari 5 orang anggota keluarga. Misil Israel yang menghantam rumah mereka mencederai ibu dan ayah. Mereka bercucuran darah hingga mati di depan mata ketiga anaknya yang masih kecil. Teriakan mereka yang terakhir keluar di dekat anak-anak mereka yang masih polos tanpa dosa.”

Dengan suara berat penuh sedih, Abu Imad melanjutkan, “Kami tetangga mereka sama sekali tidak berani maju walau selangkah mendekati mereka. Empat hari, setelah tank-tank maut Israel mengurangi intensitasnya menebar kematian, kami datang ke sini dan menemukan anak-anak ini dalam kondisi mengerikan. Yang paling kecil, usianya tidak lebih dari 2 tahun, berada di tempat ini bersama kedua kakaknya yang juga masing kecil, selama empat hari tanpa makan dan minum.”

Abu Imad akhirnya tidak bisa mengendalikan diri. Dengan keras dia berteriak, “Mereka pembunuh. Mereka tumbuh dengan melihat darah-darah kami dan teriakan-teriakan tersiksa kami. Mereka menembakkan misiu-misiu mautnya tanpa ampun dan belas kasihan.”

Di timur Gaza, keluarga Hadad yang terdiri dari 6 anggota keluarga mengalami blockade selama 4 hari. Di antara mereka ada korban meninggal selama 24 jam dan korban luka dalam kondisi kritis sebelum diselamatkan tim penolong. Mereka tidak memiliki apa-apa. Tidak ada air, tidak ada makanan dan tidak ada listik!

Bocah-bocah Tanpa Dosa di Samping Mayat Ibu-ibunya

Palang Merang Internasional, Kamis (08/01), mengatakan para relawan tim penolong menemukan 4 orang bocah yang sedang kelaparan. Mereka duduk di samping ibu-ibunya yang sudah tidak bernyawa. Relawan juga menemukan mayat lain di rumah-rumah yang dihancurkan pasukan militer Israel di kotaGaza.

Dalam pernyataan yang salinannya diterima koresponen Infopalestina, Palang Merah Internasional menegaskan pihaknya telah meminta jaminan lalu-lintas yang aman agar mobil-mobil ambulan bisa sampai ke kampung Zaitun ini sejak 3 Januari lalu. Namun sama sekali tidak mendapatkan izin dari militer Israel kecuali, Rabu (07/01) siang.

Menurutnya, “Tim gabungan antara Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina menemukan di sebuah rumah 4 orang bocah yang sedang duduk di sisi jasad ibu mereka. Mereka gemetar, kondisinya sangat lemah. Sehingga untuk berdiri saja mereka tidak mampu.” Sementara itu anggota tim gabungan menemukan seorang laki-laki yang masing hidup bersama 12 jasad korban lainnya yang sudah meninggal.

Di rumah yang berbeda tim relawan menemukan 15 orang lain yang selamat dari serangan Israel, di antara mereka ada beberapa yang terluka. Di rumah yang lain juga ditemukan 3 jasad korban yang sudah meninggal. Kondisinya sangat mengenaskan.

Kepala Delegasi Palang Merah Internasional di Palestina, Bayer Fitash mengatakan, “Ini adalah peristiwa yang mengerikan. Dipastikan pasukan militer Israel mengetahui kondisi ini namun tidak mau memberikan bantuan kepada korban yang terluka. Mereka juga tidak mengizinkan kami dan Bulan Sabit Merah membantu mereka.”

Fitash menambahkan, “Tembok tinggi dari tanah yang didirikan militer Israel menghalangi mobil-mobil ambulan untuk sampai ke kampung tersebut. Untuk itu, kami terpaksa membawa anak-anak dan korban luka ke mobil ambulan dengan menggunakan gerobak yang ditarik keledai.”

Dia melanjutkan, “Tim gabungan dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina berhasil mengevakuasi 18 korban luka dan 12 lainnya yang kondisinya sangat lusuh dan kotor. Tim gabungan juga berhasil mengevakuasi dua jasad korban yang meninggal.”

Fitash mengisyaratkan, Palang Merah Internasional tahu bahwa di sana ada korban luka lain yang bersembunyi di rumah-rumah yang hancur di kampung Zaitun. Pihaknya meminta militer Israel memberikan jaminan keamanan kepada timnya dan mobil ambulan Bulan Sabit Merah Palestina untuk lewat dengan aman agar bisa masuk ke kampung tersebut untuk mencari korban luka yang lain.

Sampai saat ini Palang Merah Internasional belum mendapatkan kepastian apapun dari otoritas Israel untuk memberikan kemudahan dalam hal ini. Pihaknya menilai militer Israel telah mengingkari janji kewajibannya sebagaimana ditegaskan dalam hukum kemanusiaan internasional yang mengharuskan Israel memberikan perlindungan kepada korban luka dan mengevakuasi mereka. Penundaan pemberian izin kepada tim penolong untuk masuk ke kampung tersebut adalah hal yang tidak bisa diterima. (seto)


Sumber: www.infopalestina.com

0 Comments:

Post a Comment